Headlines

Auto News

Showing posts with label Berbohong. Show all posts
Showing posts with label Berbohong. Show all posts

Bagaimanakah Penipuan Atau Berbohong Menurut Pandangan Islam

June 01, 2018
Galih Gumelar -  Jamaah Pengajian Galih Gumelar, bagaimanakah menipu atau berbohong menurut pandangan Islam berdasarkan Al Qur’an dan Hadis:
HR. Bukhari Muslim dari Ibnu Mas’ud: “Kejujuran menuntun pada kebajikan, kebajikan dapat menghantarkan ke surga. Sesungguhnya kebohongan itu menyeret manusia pada kejahatan , sedang kejahatan itu dapat menyeret pada neraka.” (berbohong hukumnya haram)
HR. Bukhari dari Ibnu Abas: ” Barangsiapa mengaku bermimpi sesuatu padahal dia tidak memimpikannya maka ia akan dituntut untuk menyambung dua ujung rambut.”

Bahkan berbohong dalam Islam dipandang sebagai salah satu sifat kekufuran dan kemunafikan. Di dalam Al-Qur’an Alloh SWT berfirman, “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah mereka yang tidak mengimani (mempercayai) tanda-tanda kekuasaan Alloh. Mereka adalah kaum pendusta”. (An-Nahl: 105)

Rasulullah SAW pun menggolongkan mereka yang berdusta termasuk orang-orang yang memiliki karekteristik kemunafikan. Beliau bersabda, “Empat hal jika semuanya ada pada seseorang ia adalah munafik semurni-murninya munafik. Jika satu di antara yang empat itu ada pada dirinya maka padanya terdapat saru sifat kemunafikan hingga ia dapat membuangnya; Jika berbicara ia berduta, jika diberi amanah ia khianat, jika berjanji ia melanggar dan jika membantah ia berbohong.” (HR. Bukhori Muslim)

Kenapa Jangan Jadi Pembohong dan Penipu

June 01, 2018
Galih Gumelar -  dari Abu Hurairah R.A bahwa Rasulullah SAW bersabda:
"Barangsiapa yang mengarah senjata kepada kami maka dia bukan dari golongan kami. Dan barangsiapa yang menipu kami, maka dia bukan golongan kami." (HR. Muslim)

Dari abu bakar Ash Shiddiq RA ia berkata bersabda Rasulullah SAW
"Tidak akan masuk surga orang yang suka menipu,kikir,dan yang bertabiat buruk." (HR.at Tirmidzi,dengan sanad “dhaif”)

Dalam hadits berikut beliau bersabda :
"Sesungguhnya kejujuran akan menunjukkan kepada kebaikan,dan kebaikan itu akan menghantarkan kepada surga. Seseorang yang berbuat jujur oleh Allah akan dicatat sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya bohong itu akan menunjukkan kepada kelaliman,dan kelaliman itu akan menghantarkan ke arah neraka. Seseorang yang terus menerus berbuat bohong akan ditulis oleh Allah sebagai pembohong." (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim )

Rasulullah pernah bersabda pula :
"Pertanda orang yang munafiq ada tiga: apabila berbicara bohong,apabila berjanji mengingkari janjinya dan apabila dipercaya berbuat khianat". (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

Maka dari itu menasehati sesama muslim merupakan kewajiban setiap muslim,bahkan dia merupakan salah satu dari tiang penyangga tegaknya agama ini. Karenanya termasuk kesalahan besar jika seorang muslim menipu atau mencurangi saudaranya sesama muslim. Sabda Nabi SAW ‘bukan golonganku’ 'bukan golongan kami', menunjukkan bahwa penipuan dan kecurangan merupakan dosa yang sangat besar dan bukan merupakan dosa yang kecil.

Pembaca galihgumelar.com ternyata penipuan dan kecurangan juga termasuk kezhaliman, dan sudah jelas hukuman Allah kepada setiap pelaku kezhaliman di muka bumi ini.


WAH TERNYATA ADA LARANGAN UNTUK MENGATAKAN "PASTI".

Allah berfirman: “Dan jangan sekali-kali engkau (Muhammad) mengatakan: ‘Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini esok’, kecuali (dengan menyebut): insya Allah...” (Qs Al-Kahfi ayat 23-24)

Pada saat Nabi Ibrahim menyampaikan perintah Allah untuk menyembelih Nabi Ismail,anak yang saleh ini berkata:
“Wahai bapaku,kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang- orang yang bersabar.” (Qs Al- Saffat ayat 102).

Begitu juga ucapan Nabi Musa apabila beliau berjanji kepada Nabi Khidir untuk patuh kepada semua arahannya sepanjang perjalanan menuntut ilmu. Nabi Musa berkata:
“Insya Allah engkau akan mendapatiku sebagai orang yang bersabar,dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun.” (Qs Al- Kahfi ayat 69).

Menurut Ibn Jarir Al-Tabari, ayat ini berisi pengajaran adab untuk Nabi Saw. Beliau dilarang untuk memastikan apa yang akan terjadi di masa hadapan melainkan dengan menyandarkannya kepada kehendak Allah. Sebab segala sesuatu hanya boleh berlaku apabila dikehendaki oleh Allah Swt.

Secara harfiah, kalimat insya Allah bermakna “jika Allah menghendaki”. Ucapan ini melambangkan kesadaran hamba akan hakikat dirinya yang serba kekurangan dan jahil. Sekaligus mengiktiraf kekuasaan Allah Swt yang Maha Kuasa dalam menentukan setiap yang berlaku di alam semesta ini.

Ucapan insya Allah ini mencerminkan pengakuan atas kelemahan diri dan ketergantungan kepada belas kasih tuhannya agar selalu membantu dalam setiap keinginan dan niatannya. Siapa yang selalu menyadari kelemahan dirinya, Allah akan selalu hadir dalam hidupnya. Dan siapa yang merasa dirinya serba cukup dan berkuasa atas segalanya, ia akan lupa diri dan berakhir seperti Firaun dan Namruz yang mengaku diri sebagai tuhan.

Berkata Imam al-Syafi‘i:
“Kelemahan adalah sifat manusia yang paling jelas. Sesiapa yang selalu menyedari sifat ini, dia akan beroleh istiqamah dalam beribadat kepada Allah.”

siapa yang berjanji dengan niat sungguh-sungguh untuk melaksanakannya,sambil menyerahkan perkara itu kepada Allah,bantuan dari Allah akan datang untuk mewujudkan janji tersebut.

Di kisahkan dalam hadis Al- Bukhari dan Muslim, Rasulullah Saw pernah bercerita:
“Nabi Sulaiman bin Dawud berkata: ‘Malam ini aku akan mendatangi 90 orang isteri- isteriku. Setiap daripada mereka pasti akan melahirkan seorang pejuang di jalan Allah.’ “Malaikat berkata kepadanya: ‘katakanlah insya Allah.’ Namun Nabi Sulaiman tidak mengucapkan kalimat ini. Akhirnya, tidak ada seorangpun daripada isteri-isterinya itu yang melahirkan anak. Hanya seorang isteri yang melahirkan, namun anak itu cacat dan tidak sempurna.

Bersabda Nabi Saw:
“Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, andai beliau mengucapkan: insya Allah, niscaya isteri-isterinya itu akan melahirkan anak-anak yang berjuang di jalan Allah.”

Berkata Ibn Battal Al-Maliki dalam Syarh Al-Bukhari: “Hadis ini mengandungi pengajaran bahawa sesiapa yang mengucapkan insya Allah, sambil menyadari kelemahan dirinya dan meminta bantuan dari Allah, maka besar kemungkinan ia akan memperolehi apa yang diharapkannya.”

Semoga bermanfaat untuk semua pembaca galihgumelar.com silahkan di sher dan copypaste untuk menyiarkan tetang hal di atas.Jazakumullah.


Sumber : Dari berbagai Sumber

Galih Gumelar : Yuk Jadi Diri Sendiri Bukan Penipu Diri - Kun Anta

May 31, 2018
Galihgumelar  - Jamaah Pengajian Galih Gumelar, Banyak Sekai Diantara kita taidak percaya diri dan berusaha menipu diri dengan menjadi diri orang lain, tidak adanya tidak apa adanya, serba dibuat buat yang akhirnya akan mengalami kejenuhan dan rasa tidak percaya diri yang berlebih.

Galih Gumelar : "Bukan sombong dan takabur tapi percaya diri perlu, dari pada karena kurang percaya diri akhirnya kita menjadi orang lain dan tidak mensyukuri semua nikmat dan kelebihan yang ada pada diri kita maka KUN ANTA - Jadilah diri Sendiri dangan Menjadi Penipu diri"


Allah berfirman;
dan (juga) pada dirimu sendiri ( terdapat tanda – tanda kekuasaan Allah ). Maka apakah kamu tiada memperhatikan? (QS. Adz dzaariyaat:21)



# JADILAH DIRI SENDIRI #
Sebuah Kutipan :
Aku adalah aku.
Aku bukan kamu, dia, atau mereka.
Aku adalah aku dengan segala kelemahan yang ada.
Aku dengan segala kelebihan yang Allah berikan.
Aku yang berdiri tegak karena curahan cinta dan kasih sayang-Nya yang melimpah ruah.
Maka Aku, adalah aku yang kan bersinar terang dengan jalanku tuk menyinari sekitar karena-Nya.

“Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu”
“Barangsiapa mengenal (arif) terhadap jiwa/diri (nafs)-nya, maka sesungguhnya dia akan mengenal (arif) pula terhadap Tuhan-nya, Pemelihara-nya (Rabb).”
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah…” (QS. Al an ‘am : 116)

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. An-Nisaa’ : 32)
“ termasuk sempurnanya islam seseorang adalah meningggalkan apa- apa yang tidak berguna untuk dirinya.( hadist…)




Hadist Yang Membolehkan Berbohong Pada Situasi tertentu

July 29, 2016
Pembaca Galihgumelar.com, berikut adalah beberapa Hadits-hadits shahih tentang bolehnya berbohong pada kasus-kasus tertentu atau situasi tertentu.

1. Hadits Ummu Kultsum:

عن أم كلثوم بنت عقبة أخبرته : أنها سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول : ليس الكذاب الذي يصلح بين الناس فينمي خيرا أو يقول خيرا
Artinya:
Dari Ummu Kultsum binti Uqbah mengabarkan bahwa dia mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Bukanlah pendusta orang yang mendamaikan antara manusia (yang bertikai) kemudian dia melebih-lebihkan kebaikan atau berkata baik”. [Muttafaqun 'Alaih]

Di dalam riwayat Al Imam Muslim ada tambahan:

ولم أسمع يرخص في شيء مما يقول الناس كذب إلا في ثلاث الحرب والإصلاح بين الناس وحديث الرجل امرأته وحديث المرأة زوجها
Artinya:
“Dan aku (Ummu Kultsum) tidak mendengar bahwa beliau memberikan rukhsah (keringanan) dari dusta yang dikatakan oleh manusia kecuali dalam perang, mendamaikan antara manusia, pembicaraan seorang suami pada istrinya dan pembicaraan istri pada suaminya“.

2. Hadits Asma’ binti Yazid

عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ يَزِيدَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ يَحِلُّ الْكَذِبُ إِلاَّ فِى ثَلاَثٍ يُحَدِّثُ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ لِيُرْضِيَهَا وَالْكَذِبُ فِى الْحَرْبِ وَالْكَذِبُ لِيُصْلِحَ بَيْنَ النَّاسِ ». وَقَالَ مَحْمُودٌ فِى حَدِيثِهِ « لاَ يَصْلُحُ الْكَذِبُ إِلاَّ فِى ثَلاَثٍ ». قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ لاَ نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ أَسْمَاءَ إِلاَّ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ خُثَيْمٍ.
Artinya:
Dari Asma’ binti Yazid dia berkata: Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Bohong itu tidak halal kecuali dalam tiga hal (yaitu) suami pada istrinya agar mendapat ridho istrinya, bohong dalam perang, dan bohong untuk mendamaikan diantara manusia”.

 
Copyright © Pengajian Galih Gumelar. Designed by OddThemes