Headlines

Auto News

Showing posts with label Tausiyah. Show all posts
Showing posts with label Tausiyah. Show all posts

Apa Saja Pengaruh Buruk dai BerZina ?

June 01, 2018
Galih Gumelar - Rasulullah Saw bersabda, “Zina mengandung kerugian-kerugian duniawi dan ukhrawi. Kerugian di dunia: hilangnya cahaya dan keindahan manusia, kematian yang dekat, terputusnya rezeki. Adapun kerugian di akhirat, tidak berdaya, mendapatkan kemurkaan Tuhan pada waktu perhitungan dan keabadian dalam neraka.

Diriwayatkan dari Rasulullah Saw yang bersabda, “Tatkala zina telah merajalela maka kematian mendadak juga akan semakin banyak. Janganlah berzina, sehingga istri-istrimu juga tidak ternodai dengan perbuatan zina. Barang siapa yang melanggar kehormatan orang lain maka kehormatannya juga akan dilanggar. Sebagaimana engkau memperlakukan orang engkau akan diperlakukan.”

Pembaca Tausiyah Galih Gumelar, Imam Ali bin Abi Thalib As dalam sebuah hadis bersabda, “Aku mendengar dari Rasulullah Saw bersabda, “Pada zina terdapat enam efek buruk, tiga bagiannya di dunia dan tiga bagian lainnya di akhirat. Adapun pengaruh buruknya di dunia, pertama, akan mengambil cahaya dan keindahan dari manusia. Memutuskan rezeki, mempercepat kematian manusia. Adapun pengaruh buruknya di akhirat, kemurkaan Tuhan, kesukaran dalam perhitungan dan masuknya ke dalam neraka.”

Ali memandang bahwa meninggalkan perbuatan zina akan menyebabkan kokohnya institusi keluarga dan meninggalkan perbuatan liwat (sodomi) adalah faktor terjaganya generasi manusia.
Dalam sebuah sabda Imam Ridha As telah dinyatakan sebagian keburukan zina di antaranya:
1.     Terjadinya pembunuhan dengan pengguguran janin.
2.     Kacaunya sistem kekeluargaan dan kekerabatan.
3.     Terabaikannya pendidikan anak-anak.
4.     Hilangnya warisan.
Karena pengaruh buruk dan jelek lainnya yang membuat Islam sangat mencela perbuatan zina dan memandangnya sebagai dosa besar. Namun apabila manusia melakukan perbuatan buruk ini khususnya berzina dengan wanita bersuami dan kemudian menyesali perbuatan tersebut dengan sebenarnya serta menyatakan taubat dan berjanji tidak akan mengulanginya maka jalan dan pintu taubat akan terbuka lebar baginya.

Al-Qur’an dalam mencirikan ‘ibadurrahman (hamba-hamba sejati Tuhan), salah satu ciri mereka adalah tidak melakukan perbuatan zina. Firman Tuhan, “Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah, tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina; barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia menerima siksa yang sangat pedih, akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertobat, beriman, dan mengerjakan amal saleh; maka Allah akan mengganti kejahatan mereka dengan kebaikan, dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang; . dan orang yang bertobat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia kembali kepada Allah dengan sebenarnya.” (Qs. Al-Furqan [25]:68-71)

Pembaca Tausiyah Galih Gumelar, pada ayat lainnya, Al-Qur’an memperkenalkan orang-orang bertakwa, “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Balasan mereka ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (Qs. Ali Imran [3]:135-136)

Disebutkan pada sebuah riwayat muktabar, “Seorang pemuda menangis dan bersedih hati datang ke hadirat Rasulullah Saw dan berkata bahwa ia takut kepada kemurkaan Tuhan.
Rasulullah Saw bersabda, “Apakah engkau telah melakukan syirik?” Jawabnya, “Tidak.”
Sabdanya, “Apakah engkau telah menumpahkan darah seseorang yang tidak berdosa?”
Katanya, “Tidak.”
Sabdanya, “Allah Swt akan mengampuni dosamu berapa pun besarnya.”
Katanya, “Dosaku lebih besar dari langi dan bumi, arasy dan kursi Tuhan.”
Sabdanya, “Apakah dosamu lebih besar dari Tuhan?” Katanya, “Tidak, Allah Swt lebih besar dari segalanya.”
Sabdanya, “Pergilah (Bertobatlah) sesungguhnya Allah Swt Mahabesar dan mengampuni dosa besar.” Kemudian Rasulullah Saw bersabda lagi, “Katakanlah sebenarnya dosa apa yang telah kau lakukan?”
Katanya, “Wahai Rasulullah Saw, saya merasa malu mengatakannya kepada Anda.”

Sabdanya, “Ayo katakanlah apa yang telah kau lakukan?” Katanya, “Tujuh tahun saya membongkar kuburan dan mengambil kafan orang-orang mati hingga suatu hari tatkala saya membongkar kubur dan mendapatkan jasad seorang putri dari kaum Anshar kemudian saya telanjangi lalu hawa nafsu menguasai diriku…. (kemudian pemuda itu menjelaskan apa yang dilakukannya).. Ketika ucapan pemuda itu sampai di sini Rasulullah Saw bersedih luar biasa dan bersabda, “Keluarkanlah orang fasik ini dan berpaling kepada pemuda itu dan bersabda, “Alangkah dekatnya engkau kepada neraka?” Pemuda itu keluar dan menangis sejadi-jadinya, mengalihkan pandangannya ke sahara dan berkata, “Wahai Tuhan Muhammad! Apabila Engkau menerima taubatku maka kabarkanlah kepada Rasul-Mu dan apabila tidak demikian maka turunkanlah api dari langit dan membakarku serta melepaskanku dari azab akhirat. (Setelah itu) Di sinilah utusan wahyu Ilahi turun kepada Rasulullah Saw dan membacakan ayat, “Qul Yaa Ibâdiyalladzi asrafû…” bagi Rasulullah Saw.[3] “Katakanlah (Wahai Rasul), “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Isra [17]:53)

Jamaah Pengajian Galih Gumelar, apabila Anda menginginkan keselamatan dengan harapan terhadap ampunan dan maaf ilahi maka segeralah bertaubat.  Anda tidak perlu harus mengabarkan orang lain atas apa yang terjadi. Cukup Anda dan Tuhan Andalah yang tahu apa yang telah Anda lakukan.

Sesuai dengan pandangan (fatwa) kebanyakan marja agung taklid yang memfatwakan keharaman abadi bagi wanita ini untuk menikah dengan orang yang telah berzina dengannya. Dan bahkan apabila wanita tersebut telah menerima talak dari suaminya, pria yang sebelumnnya berzina dengannya tidak dapat menikah dengannya (selamanya).

Referensi :

[1]. Silahkan lihat, Tafsir Nur, Muhsin Qira’ati, jil. 8, hal. 193, Cetakan Kesebelas, Intisyarat Markaz Farhanggi Darsha-ye Qur’an, Teheran, 1383.  
[2]. Tafsir Nemune, Makarim Syirazi, jil. 12, hal. 102, Cetakan Pertama, Intisyarat-e Dar al-Kutub al-Islamiyah, Teheran, 1373.  
[3]. Ibid, jil. 19, hal. 507.  
[4]. Taudhi al-Masâil (al-Muhassyâ li al-Imâm Khomeini), jil. 2, hal. 471. Masalah 2403, 2402, 2401.  

Yuk Tinggalkan Dunia Saat Waktu Shalat Tiba

May 31, 2018
GalihGumelar - Pembaca pengajian Galih Gumelar, saat sekarang ini sangat susah mencari muslim yang mau meninggalkan dunia saat waktu shalat tiba. Karena kebanyakan dari mereka sering menunda-nunda waktu tersebut karena jeda antara setiap waktu shalat terbilang panjang. Beberapa diantaranya adalah para pedagang, pekerja dan pegawai yang merasa saat waktu shalat tiba, pengunjung atau pekerjaan dan tugaaas dengan serta merta datang berhamburan. Kita yang seperti itu mengira bahwa hal tersebut merupakan sebuah rezeki yang melimpah, padahal itu merupakan sebuah ujian akan keimanan kita kepada rezeki yang Allah berikan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengisahkan tentang ramainya sebuah pasar namun saat adzan berkumandang, semua pedagang menutup semua toko dan lapaknya.
Meninggalkan duniawi saat waktu shalat tiba
Meninggalkan duniawi saat waktu shalat tiba
Pada suatu hari Abdullah bin Umar radhiallahu anhu datang ke pasar dan saat shalat wajib tiba, semua pedagangnya menutup tokonya masing-masing dan berjalan berduyun-duyun ke masjid.

Ibnu Umar radhiallahu anhu pun berkata bahwa inilah ciri orang-orang yang Allah jelaskan dalam Al Quran surat An Nur.

“Lelaki-lelaki yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat dan membayar zakat” (QS An Nur 37)

Ibnu Umar radhiallahu anhu berkata, “Sungguh orang-orang ini sibuk dalam pedagangannya. Namun saat mendengar suara adzan, mereka langsung meninggalkan dagangannya lalu berjalan ke masjid.”

Ia pun berkata “Demi Allah sungguh mereka adalah para pedagang yang perdagangannya tidak menghalangi mereka dari mengingat Allah.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pada hari kiamat ketika Allah subhanahu wa ta’ala mengumpulkan manusia pada suatu tempat, maka Allah mengajukan tiga pertanyaan. Pertanyaan pertama “Siapakah yang memuji Allah pada waktu senang dan susah?” Maka sekumpulan manusia akan bangun lalu masuk ke surga tanpa hisab. Pertanyaan kedua, “Siapakah yang meninggalkan tempat tidurnya dan menghabiskan malamnya untuk mengingat Allah dengan perasaan takut dan harap?” Lalu sekumpulan manusia lagi akan berdiri dan terus masuk ke surga tanpa hisab. Pertanyaan ketiga, “Siapakah perdagangannya yang tidak menghalanginya dari mengingat Allah?” Kemudian sekumpulan manusia pun akan bangun lalu masuk ke surga tanpa hisab. Setelah ketiga kumpulan manusia itu masuk ke surga, barulah dimulai penghisaban atas manusia yang lainnya.”

Sumber : Berbagai Sumber

Apakah Orang Yang Sudah Meninggal Dunia Bisa mendoakan Orang Yang Masih hidup ?

May 31, 2018
Galih Gumelar - Jamaah pengajian galih guemalar, dari berbagai riwayat yang ada dapat disimpulkan bahwa orang-orang yang telah meninggal mempunyai hubungan dengan orang-orang yang masih hidup. Orang-orang yang telah meninggal dunia mengetahui jika orang-orang menziarahi mereka dan jika orang-orang yang masih hidup menjalin hubungan dan akrab dengan mereka.

Pada kesempatan tertentu kepada orang-orang yang masih hidup dianjurkan untuk mengambil pelajaran dari mereka dan sebelum kemampuannya hilang supaya mengganti masa-masa lalunya yang kurang baik dengan perbuatan-perbuatan baik. 

Namun kebutuhan orang-orang yang telah meninggal lebih banyak dari pada orang-orang yang masih hidup karena mereka tidak mampu lagi untuk mengerjakan kebaikan-kebaikan dan orang-orang yang masih hiduplah yang mampu melakukan sebagian kebaikan-kebaikan sehingga bisa menyebabkan diampuninya orang-orang yang telah meninggal dunia itu atau membawa derajat mereka ke arah yang lebih tinggi.

Riwayat-riwayat berikut menerangkan tentang hal ini:
Rasululullah Saw bersabda, “Aku bersumpah demi Tuhan yang hidupku dalam bimbingan-Nya, jika mereka (kerabat mayit) mengetahui keadaan dan kondisi seseorang yang telah meninggal dunia dan mendengar perkataan mereka, maka ia akan membiarkan orang yang meninggal itu dan akan menangis sendirian (menangisi dirinya sendiri).

Sehingga akhirnya jenazah itu dibawa ke pekuburan dan jenazah itu berseru, ‘Hai anak-anakku! Janganlah biarkan dunia mempermainkamu seperti ia mempemainkan diriku. Aku menyatukan harta yang halal dan haram kemudian memberikan kepadamu dan harta ini sampai kepadamu tanpa susah payah. Susah dan jerih payahnya untukku. Jauhkanlah diri kalian dari bala yang menimpaku sehingga kalian tidak akan tersiksa sepertiku.”

Imam Shadiq As bersabda, “Setiap seorang Muslim berbuat amal saleh untuk orang-orang yang meninggal dunia, maka ia akan mendapat pahala dua kali lipat dan orang-orang yang meninggal pun mendapat kebaikan dari kebaikan dan pahala itu.

Salat, sedekah, haji, kebaikan dan doa yang ia panjatkan bagi orang-orang yang telah meninggal maka akan masuk ke kuburannya dan akan sampai kepadanya, pahalanya akan dicatakan bagi orang yang mengerjakan amal kebaikan itu dan orang yang telah meninggal itu.”

Ishak bin Ammar bertanya kepada Imam Kadzim As. Aku berkata, “Apakah orang-orang Mukmin tahu tentang siapa-siapa yang menziarahi kuburannya? Imam menjawab, “ Iya, selama peziarah masih di atas kuburannya, ia akrab dengan orang yang mengunjunginya dan ketika kepala peziarah bangun (beranjak pergi) dari kuburannya, maka ia akan merasakan ketakutan.”


Pembaca Tausiyah Galih Gumelar, Namun sampai saat ini belum ditemukan hadis-hadis yang mengacu kepada cepatnya dikabulkannya doa orang-orang yang meninggal kepada orang-orang yang masih hidup atau orang meninggal dunia mendoakan orang yang masih hidup.

Dari beberapa riwayat yang ada dapat diambil kesimpulan bahwa doa anak di atas kuburan orang tua adalah mustajab dan dianjurkan bahwa bahwa seseorang supaya menziarahi kuburan mereka dan menginginkan hajat dari Allah Swt.

Imam Shadiq As meriwayatkan dari Imam Ali As, “Ziarahilah orang-orang yang meninggal, karena mereka akan senang menemuimu. Setiap kali seseorang menginginkan sesuatu, pergilah ke kuburan ayah dan ibu dan berdoalah bagi mereka dan mintalah hajat dari Allah Swt.”

Demikian juga, sekelompok riwayat yang lain menyatakan bahwa kebaikan yang dilakukan untuk ayah dan ibu setelah kematian mereka, bagi anak yang tadinya tidak memperoleh keridhaan orang tua selama hidupnya kini dengan melakukan kebaikan atas nama mereka akan mendatangkan keridhaan orang tua yang telah meninggal.

Imam Shadiq As bersabda, “Kadang-kadang orang tua meninggal dunia dalam keadaan menolak anaknya, namun anak itu mendoakan orang tuanya sehingga memberikan kebaikan kepada anak itu dan anak itu akan tertulis sebagai orang-orang yang terpuji.”

Kami ingatkan bahwa perhitungan amal bagi para wali Allah adalah berbeda dan Allah Swt dengan kehendak-Nya sendiri memberikan kebebasan kepada mereka sehingga mereka dapat memberikan syafaat kepada orang-orang yang masih hidup dan mengharapkan terkabulkannya doa mereka dari Tuhan. 

Referensi : 
[1] Sya’iri, Muhammad bin Muhammad, Jami’ al-Akhbār, hal. 170, Muthba’ah Haidariyah, Najaf, tanpa tahun.
[2] Syaikh Shaduq, Man Lā Yahdhuruhu al-Faqih, jil. 1, hal. 185, Daftar Intisyarat Islami, Qum, 1413.
[3] Ibid.
[4] Kulaini, Muhammad bin Ya’qub, Kāfi, jil. 1, hal 228, Dar al-Kitab al-Islamiyah, Tehran, 1407.
[5] Ibid, hal. 230.
[6] Dailami, Hasan bin Muhammad, Irsyād al-Qulub ila al-Syawāb, jil. 1, hal. 195, al-Syarif al-Radhi, Qum, 1412.



Sumber :  Islam Quest dan berbagai Sumber Lainnya

Allah Mengganti Harta yang Disedekahkan Dan Sedekah Sebagai Naungan di Hari Kiamat

April 16, 2018

Galih Gumelar - Pembaca Pengajian Galih Gumelar, bahwasanya perlu diketahui bahwa Allah Mengganti Harta yang Disedekahkan Dan Sedekah Sebagai Naungan di Hari Kiamat. Banyak di antara manusia yang takut miskin apabila gemar menyedekahkan hartanya. Padahal, Allah menjanjikan balasan yang berlipat ganda bagi orang yang bersedekah.

Allah berfirman dalam surat Saba ayat 39 bahwa Allah akan mengganti sedekah yang kita keluarkan, "Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya."

Diriwayatkan dalam hadis riwayat Ahamad, Rasulullah bersabda, "Naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat adalah sedekahnya."

Dengan banyaknya keuntungan yang didapatkan melalui sedekah, umat Islam dianjurkan untuk gemar bersedekah apalagi di bulan Ramadan ini.

Semoga Bermanfaat untuk semuanya.

Apa Benar Sedekah Melipat gandakan Rezeki ?

April 16, 2018

Galih Gumelar - Benarkah Sedekah Melipat gandakan Rezeki ?. Ternyata Buktinya dikatakan Allah Swt dalam AL-Quran, Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah Ayat 261, "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui."


Rasulullah bersabda dalam hadis riwayat Baihaqi, "Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sedekah."

Diriwayatkan pula dalam hadis riwayat Muslim, "Hai anak Adam, infaklah (nafkahkanlah hartamu), niscaya Aku memberikan nafkah kepadamu."


Jelas dengan sedekah dalam bentuk apapun akan melipatgandakan rezeki kita dalam bentuk apapun.

Oleh Karena itu yuk mari kita perbanyak sedekah walau sekecil apapun.

Ketika Orang Tua Jadi Pembantu Kita

October 10, 2016
Galih Gumelar - Pembaca tausiyah galihgumelar, dari tulisan sebelumnya yang menceritakan bahwa ada sepasang suami istri yang usianya sudah setengah abad lebih berkata : 

"Kita tak perlu mengharapkan apapun dari anak-anak kita. Yang penting ikhlas saja dalam mendidik mereka. Kalau mereka hidup miskin, kita kebagian susahnya. Kalau mereka hidup senang, kita paling diperlakukan seperti pembantu." 

Di antara kita mungkin dan pasti menganggap ucapan di atas terlalu berlebihan. Pasti tak ada anak yang tega bila menjadikan orang tua mereka sendiri sebagai pembantu. 

Namun para pembaca tausiyah.galihgumelar.net kenyataanya kita banyak melihat rumah tangga yang kondisinya seperti itu, bahkan mungkin ada juga di antara kita, fenomena ini terjadi nyata di jaman modern ini.

Kasus yang banyak sekali terjadi, yaitu sang suami dan istri bekerja kantoran. Pergi pagi pulang petang. Tak ada pembantu, karena mencari pembantu di zaman sekarang ini sangat tidak mudah. Berita baiknya, di rumah ada ibu mereka. Si ibu inilah yang bertugas menjaga anak, mengurus rumah selagi anak dan mertuanya bekerja, dan seterusnya, bahkan hingga orang tua sakit sakitan karena kecapaian mengurus cucuknya dari pagi buta hingga petang bahkan larut malam.

Tidak dapat dipungkiri bahwa seorang nenek atau kakek, pastilah senang bila mereka dilibatkan dalam mengurus cucu-cucunya, atau membantu anak-anak mereka dalam meringankan tugas keluarga. Dan kesenangan ini menjadi alasan dasar kenapa para kakek atau nenek ridho atau ikhlas mengurus cucuknya. Yang akhirnya para anak terlena menjadikan orang tuanya baby sister untuk para cucuknya. 

Pembaca tausiyah.galihgumelar.net, banyak sekali kejadian ini menjadi kegiatan bahkan tugas rutin, yang akhirnya para aanak yaitu kita memiliki pemikiran :"Untung ada kakek/nenek yang bisa menjaga si kecil dan mengurus rumah selagi kami bekerja," maka apakah itu tidak sama saja dengan memperlakukan orang tua kita seperti pembantu? 

Masya Allah. Naudzubillahi Min Zalik!!! 

Banyak pasangan suami-istri yang berpendapat, bahwa kondisi seperti ini terpaksa mereka jalani, karena rezeki masih kurang. Gaji suami tidak cukup, sehingga istri harus ikut bekerja. 
Oke, alasan ini terkesan memang masuk akal. 

Mari kita renungkan baik-baik dari berbagai sumber didapat pendapat yang berdasarkan hadist dan nilai kemanusian : 

(1) Yang bertanggung jawab untuk mencari nafkah adalah suami, bukan istri. Jika penghasilan dianggap kurang, seharusnya suamilah yang berusaha untuk menambah penghasilan, bukan istri. 

(2) Istri boleh saja bekerja, tapi masih banyak alternatif pekerjaan yang bisa dilakukan tanpa harus meninggalkan rumah. Misalnya, berbisnis online. Banyak wanita yang sukses di bidang ini. 

(3) Jika Anda seorang wanita dan single parent, ya memang masih bisa dimaklumi jika harus bekerja, karena Anda kini merangkap status sebagai ayah sekaligus ibu. Namun coba baca nomor (2) di atas. Insya Allah saya yakin Anda bisa. 

(4) yang terpenting:
Selama kita masih menzalimi orang tua kita sendiri dengan cara memperlakukan mereka seperti pembantu, bagaimana mungkin rezeki kita akan bisa lancar? Rezeki kita akan bisa lancar jika - antara lain - kita bisa membahagiakan dan memuliakan orang tua kita di masa tuanya. 

Saat kita masih dalam kandungan, ketika kita lahir, ketika masih anak-anak, ketika kita tumbuh remaja, kita sudah sangat merepotkan mereka. Sekarang setelah kita dewasa dan berumah tangga, masihkah kita terus merepotkan mereka? Sampai kapan??? 

(5) Ada orang yang berdalih:
"Orang tua saya ikhlas dalam mengurus cucunya. Hubungan mereka pun jadi sangat mesra karena hal itu. Lagipula, lebih baik an lebih aman jika anak kita diasuh oleh neneknya sendiri ketimbang oleh pembantu. 

Pembaca tausyiah.galihgumelar.net, negeri kita memang sedang berkembang, namun mari kita berlajar dari negeri yang sudah maju, banyak orang tua menagsuh anaknya sendiri hingga bekerja tanpa merepotkan orang tua, bagi yang pas-pasan berangkat bekerja di  titipkan di penitipan anak lalu pulang dijemput kembali dan banyak sekali cara yang baik tanpa harus merepottkan orang tua kita yang hanya tinggal mengahabiskan masa hidupnya untuk beribahda kepada Allah SWT.

Semua nenek/kakek pasti senang dan ikhlas dalam mendidik cucu mereka. Tanpa diminta pun, mereka dengan senang hati menawarkan diri untuk merawat sang cucu .

Namun kita sebagai anaklah yang seharusnya berfikir secara rasional dan logika serta jangan mendurhakai orang tua kita, yang tanpa sengaja kita mengahalangi mereka menghabiskan waktunya untuk memperbanyak bekal ke akhirat dengan menunda pengajian, sholat telat, tidak bisa ke mesjid karena sibuk dan kecapaian mengurus sang cucu. 

Sejak masih dalam kandungan hingga dewasa.. kita sudah sangat merepotkan mereka. Sekaranglah saatnya untuk balas, budi, memuliakan mereka, bukan justru melanjutkan kerepotan mereka dan mngehalang ibadah mereka bahkan menajdikan mereka sakit karena kelelahan.

Walaupun benar kurang aman dan kurang baik jika didik oleh pembantu. Namun alasan itu bukan hal dasar menjadikan orang tua sebagai pembantu kita (kalimat kasarnya) kalmata halusnya : menjaga /mengasuh cucu.


Pembaca tausiyah.galihgumelar.net, ada satu hadist yang menyatakan kejadian ini semua  :

"Beritahukan kepadaku kapan terjadinya Kiamat." Nabi menjawab, "Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya." Dia pun bertanya lagi, "Beritahukan kepadaku tentang tanda - tandanya!" Nabi menjawab, "Jika budak wanita telah melahirkan tuannya, jika engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tanpa memakai baju (miskin papa) serta penggembala kambing telah saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang tinggi." (HR Muslim) 

Sikap durhaka kepada orang tua yang terselubung.

Pembaca tausiyah.galihgumelar.net, dalam pandangan yang lain, ungkapan bahwa budak telah melahirkan tuannya lebih merupakan sekedar ungkapan. Maksudnya, anak-anak akan menjadi durhaka kepada orangtuanya, terlebih kepada ibunya.
Seolah-olah ibunya dijadikan budak, dan anak telah berubah menjadi tuan yang memperbudak ibunya sendiri." 

Subhanallah..... Naudzubillahi Min Zalik!!! 

Mari memuliakan orang tua kita, terutama bagi yang orang tuanya masih hidup. 

Memuliakan orang tua merupakan salah satu ridha Allah, dan Insya Allah rezeki kita pun semakin mengalir deras dan berkah. Amin Allahuma amin.


Sumber : Berbagai Sumber dan Pengalaman Pasien

Renungan Kecil : Saat Orang Tua Jadi Pembantu di Rumah Kita Sendiri

October 10, 2016
Galih Gumelar - Jamaah pengajian Galih Gumelar, Rengungan yang sangat mau tidak mau kita ungkapkan : "Ketika Orang Tua Jadi Pembantu di Rumah Kita Sendiri"
Dari berbagai sumber yang di kutip dan salah satunya adalah ada cerita bahwa beberapa tahun lalu, pernah terdengar percakapan sepasang suami istri yang usianya sudah 50-an tahun, percakapannya adalah sebagai berikut : 

"Kita tak perlu mengharapkan apapun dari anak-anak kita. Yang penting ikhlas saja dalam mendidik mereka. Kalau mereka hidup miskin, kita kebagian susahnya. Kalau mereka hidup senang, kita paling diperlakukan seperti pembantu."

Mungkin saja kita menganggap ucapan di atas terlalu berlebihan. Pasti tak ada anak yang tega bila menjadikan orang tua mereka sendiri sebagai pembantu.
Hal ini juga banyak di jumpai ucapan dari pasien yang datang berkonsultasi ke aura insani, permasalahannya serupa kalimat di atas.

Saat ini faktanya sangat realita, kita melihat banyak sekali rumah tangga yang kondisinya seperti itu.

Contoh kasusnya adalah : Sang suami dan istri bekerja kantoran. Pergi pagi pulang petang. Tak ada pembantu, karena mencari pembantu di zaman sekarang ini sangat tidak mudah. Berita baiknya, di rumah ada ibu mereka. Si ibu inilah yang bertugas menjaga anak, mengurus rumah selagi anak dan mertuanya bekerja, dan seterusnya.

Seorang nenek atau kakek, pastilah senang bila mereka dilibatkan dalam mengurus cucu-cucunya, atau membantu anak-anak mereka dalam meringankan tugas keluarga.

Pembaca tausiyah.galihgumelar.net, Banyak di antara kita memiliki pola pikir : "jika selama orang tua kita senang-senang saja mengerjakannya, tentu tidak masalah"

Tapi kenyataannya banyak para orang tua kita sampai menjaga cucu dan mengurus rumah tersebut menjadi tugas rutin. Nah jika sudah rutin, apalagi kalau kita berpikir dan selalu saja mengucapkan "Untung ada Mama yang bisa menjaga si kecil dan mengurus rumah selagi kita bekerja,", Subhanallah....maka itu sama saja kita memperlakukan orang tua kita sendiri sebagai seorang pembantu!!! (Apa bedanya).

Masya Allah. Naudzubillahi Min Zalik!!!

Banyak pasangan suami-istri yang berpendapat, bahwa kondisi seperti ini terpaksa mereka jalani, karena rezeki masih kurang. Gaji suami tidak cukup, sehingga istri harus ikut bekerja.
Oke, alasan ini terkesan memang masuk akal.

Pembaca tausiyah.galihgumelar.net, coba mari bersama-sama kita renungkan baik-baik: Selama kita masih menzalimi orang tua kita sendiri dengan cara memperlakukan mereka sebagai pembantu, bagaimana mungkin rezeki kita akan bisa lancar?Rezeki kita akan bisa lancar jika - antara lain - kita bisa membahagiakan dan memuliakan orang tua kita di masa tuanya.

Saat kita masih dalam kandungan, ketika kita lahir, ketika masih anak-anak, ketika kita tumbuh remaja, kita sudah sangat merepotkan mereka. Sekarang setelah kita dewasa dan berumah tangga, masihkah kita terus merepotkan mereka? Sampai kapan???

Sumber : Dari berbagai Sumber dan Pengalaman Jamaah.

Bagaimanakah Hukum Seorang Istri Menyukai Lelaki Lain?

October 03, 2016
Galih Gumelar - Banyak dijumpai saat ini bahwa wanita yang sudah mempunyai suami tidak jarang ia juga mengidolakan atau menyukai bahkan mencintai lelaki lain selain suaminya.

Al-Qur’an telah menceritakan kepada kita kisah seorang wanita yang punya suami yang jatuh cinta kepada seorang pemuda yang bukan suaminya, yang rasa cintanya ini mendorongnya melakukan berbagai hal yang tidak diridhoi oleh akhlak dan agama. Yang dimaksud dengan cerita tersebut ialah isteri pembesar Mesir (Al Aziz) dengan seorang pemuda yang menjadi pembantunya yaitu (Nabi) Yusuf Ash Shiddiq.

Sesungguhnya cinta mempunyai permulaan yang dapat dikuasai dan dikendalikan oleh orang yang mukallaf. memandang, ngobrol, salaman, saling berkunjung, dan bertemu, semuanya merupakan hal-hal yang berada di dalam kemampuan seseorang untuk melakukan atau meninggalkan nya. Semua itu merupakan permulaan dan muqaddimah rasa cinta.

Pembaca Tausiyah GalihGumelar, Apabila orang yang di mabuk cinta itu telah sampai pada kondisi yang dia sudah tidak mampu mengendalikan nafsunya, maka sebetulnya dia sendirilah yang telah membawa dirinya kepada posisi yang sulit itu dan memasukkannya ke dalam lorong yang sempit atas kemauannya sendiri.

Orang yang mencampakkan dirinya ke dalam api tidak mungkin dapat mencegah api yang akan membakar dirinya, dan tidak mungkin ia dapat menyuruh api menjadi dingin dengan mengatakan “Wahai api dinginlah dan sejahteralah engkau atas diri saya sebagaimana yang terjadi pada diri nabi ibrahim”. Apabila api membakar dirinya dan dia berteriak minta tolong dan usahanya itu tidak berguna lagi, maka sebetulnya dia sendirilah yang membakar dirinya, karna dialah yang menyodorkan tubuhnya kepada api atas kehendaknya sendiri.

Pembaca Tausiyah GalihGumelar, Apakah cinta itu halal atau haram?jawabannya, “Cinta yang halal itu adalah halal, dan cinta yang haram itu adalah haram.”

Jawaban ini bukan basa basi dan bukan pula lelucon, tetapi merupakan penjelasan terhadap pernyataan (hadits) yang sangat populer, yakni yang halal itu sudah jelas dan yang haram pun sudah jelas, meskipun di antaranya terdapat perkara2 yang musytabitat (samar) yang banyak orang tidak mengetahuinya.

Diantaranya perkara yang halal dan jelas itu ialah seorang suami mencintai istrinya dan istri mencintai suaminya, atau lelaki yang mencintai wanita pinangannya dan wanita yang dipinang mencintai lelaki yang meminangnya.

Di antara perkara haram yang jelas haramnya itu ialah seorang wanita mencintai lelaki baik yang beristri ataupun tidak. Lalu hatinya sibuk memikirkannya hal ini dapat merusakkan kehidupan rumah tangganya, dan terkadang menyebabkan terjadinya pengkhianatan suami istri. Kalaupun tidak begitu, akan menimbulkan kegoncangan dalam kehidupannya, menyibukkan pikirannya, dan mengganggu perasaan juga hatinya, serta menghilangkan ketenangan hidup berumah tangga.

Perusakan seperti itu termasuk dosa. Pelakunya di ancam Nabi keluar dari kelompoknya. Sabda beliau, “Bukan dari golongan kami orang yang merusakkan hubungan seorang wanita dengan suaminya”. 



Sumber : Islam Pos dan Sumber Lainnya
Catatan : Silahkan share, copy paste semua tulisan di situs tausiyah.GalihGumelar.Net sebagai Sarana dakwah.
 
Copyright © Pengajian Galih Gumelar. Designed by OddThemes